Mengurai Hidup Saat Senja Tiba

4 02 2011

Saat menatap dalam matanya…. Seperti melihat bagian diriku yang terdalam. Lembut menyentuh tangannya mengingatkanku akan kiprah dan gemulai kedua belah tangannya yang pernah menyentuhku dengan kasih sayang… dimatanya aku tau betapa sepi hidupnya saat ini, diakhir senja mengurai cerita cinta yang tak lagi muda.

“Neina…. Kau harus kawin jo datuak Mali jo inyo kau kok lai ka sanang inyo urang tapandang jo barado pulo lai, kau bini patamo dek inyo nak…..” (Neina… kamu harus menikah dengan datuak Mali karena dengan dia hidup kamu pasti akan senang karena dia orang terpandang dan berada, lagi pula kamu istri pertamanya) itulah kata-kata yang keluar dari nenek buyudku lebih kurang 48 tahun yang silam.

Saat itu usia nenek masih 17 tahun, dalam silsila keluarga nenek buyudku kami berdarah keturunan Minang dan Belanda, hingga perawakan nenek dan keluarga besar kami memang sedikit berbeda dari keturunan pribumi asli Minang tempat nenek dilahirkan.  Nenekku yang dilahirkan dengan darah keturunan Minang Belanda terlahir dengan bentuk dan rupa yang sangat cantik jelita.  Hingga siapa saja yang melihat nenek di usia remajanya ingin sekali tuk mempersunting nenek menjadi istrinya, nah pria yang beruntung itu adalah datuak Mali, seorang pedagang sapi kalau di Minang dengan sebutan Toke Jawi.

Hidup disebuah dusun kecil dan masih jauh dari perkembangan kota, Batu Gajah nama dusun tempat domisili asal keturunan keluarga nenek, kenapa batu gajah karena disana memang ada batu sebesar gajah yang merupakan ciri khas sebutan untuk dusun kecil itu.  Tumbuh di desa yang sepi dan hanya melihat keramaian bila hari balai tiba (Pasar local).  Bila hari Rabu telah tiba maka orang didesa desa sekitar akan melangkahkan kaki ke Pakan Raba’ tempat mereka berdagang, membeli kebutuhan pokok bagi keluarganya dan bertemu muda dan mudi untuk bersijontiak istilah yang popular masa itu.  Dari cerita-cerita orang-orang kampung tempat nenek tinggal, kalau nenek sudah masuk ke Pakan Raba” semua muda dan mudi disana akan sontak melihat nenek yang terlahir sangat sempurna untuk seorang gadis desa, perawakan yang tinggi semampai, rambut pirang nan panjang melebihi lutut, kulit putih bersih dan wajah merah merona dan teramat indah dengan lesung pipit disebelah kanan, sungguh mata yang melihat nenek kala itu pasti takjup akan ciptaan Tuhan yang sempurna. Setiap hari Rabu, nenek pun jarang absen ke Pakan Raba’ karena nenek buyudku sering mengajak nenek untuk berniaga disana, nenek buyudku dulu adalah penjual nasi Padang dan makanan khas lemang tamai.  Di Pakan Raba’ ini lah  nenek berkenalan dengan Diru, pria yang kurang lebih kalau di sandingkan dengan nenek cukup cocok untuk dicintai nenek saat itu.

Hari berganti hari tanpa di ketahui oleh nenek buyudku, nenek menjalin cinta dengan Diru. Pria yang merupakan cinta pertama nenek Neina.  Mereka sering mencuri-curi waktu untuk bertemu, hingga kesunguhan Diru untuk mencintai nenek pun di wujudkannya dengan membelikan kain panjang sebagai tanda cintanya pada nenek.  Menurut cerita nenek kain panjang itu adalah suatu kehormatan  untuk para gadis yang akan di nikahi dan kain itu yang digunakan untuk dipakai bersama kebaya. Tapi sayang nenek buyudku punya andil yang sangat besar untuk menikahkan nenek dengan pria kaya yang berada, semantara Diru hanya seorang anak petani biasa dan juga bukan dari kalangan orang kaya.

“Amak…. Danga lah dulu aden indak cinto ka datuak Mali, maski pun inyo urang kayo nan tapandang”,

“Ndak bisa lai Nai… kau lah den jodohkan jo datuak Mali, dan ciek lai inyo lah banyak mambantu apak kau Nai, awak lah bautang budi banyak jo kaluarga nyo”,

“Ondeh mak… ampun kan denai mak, aden ndak cinto, indak bisa aden manarimonyo do ba ka aka lai ko mak….”. Saat itu bagi nenek titah orang tua tidak lagi bisa diganggu gugat.

(“Amak.. dengarkan dulu saya tidak mencintai datuak Mali, walau pun dia orang kaya yang terpandang”, “Tidak bisa Nai, kamu sudah dijodohkan dengan datuak Mali dan keluarganya sudah banyak membantu Bapakmu, kita sudah berhutang budi banyak pada keluarganya”, “ Ampunkan saya mak, saya tidak mencintainya dan tidak bisa menerimanya, bagai mana caranya mak”.)

Hari demi hari berjalan mendekati hari pernikahan nenek, nenek Neina yang terlanjur mencintai Diru, nekad untuk menemui Diru dan mengutarakan semuanya pada Diru, dan berharap Diru adalah pria yang sanggup mempertahankan cintanya dan membawa nenek Neina pergi untuk kawin lari.  Tetapi tidak, tanggapan Diru malah sebaliknya.

“Tantu iyo kau pasti ka mamiliah datuak tu lai dari pado ambo, ambo ko apo lah nyo, jan kan harato ambo anak gubalo urangnyo Nai… bamimpi rasonyo ambo baru ka bisa mandapekkan Nai mah”,

“Diru indak baitu nan denai mukasuik do… denai datang ka mari arok Diru ka mambao denai pai, jo raso cinto kito”, nenek memelas mapada Diru dengan kesungguhan hatinya.

“Indak Nai… ambo indak takao do, labiah rancak ambo mangalah sajo”,

”Diru manga baiitu indak kah cinto Diru ka ambolai?”,

“Nai jan mangecek cinto jo harato…. Ambo urang ndak ba punyo jan di hino bana cinto ambo jo urang kayo”,

”ondeh Diru indak baitu mukasuik Nai do…. Caliaklah mato Nai kok indak picayo…Nai sungguah-sungguah ka Diru, Nai ingin kito basamo”.

“ Indak Nai…. Ambo labiah baik mangalah sajo, anggap sajo kito samulo indak ado apo apo”,

(“Tidak Nai… saya tidak kuat, lebih baik saya mengalah saja”,”Diru mengapa begitu tidakkah diru mencintai saya lagi?”,” Nai jangan bicara cinta dengan harta….. saya orang yang tidak berpunya jangan hina cinta saya dengan orang kaya”,”Aduh Diru bukan itu maksud Nai… Lihatlah mata Nai, kalau kamu tidak percaya, Nai sungguh-sungguh ingin bersama Diru”,”Tidak Nai saya lebih baik mengalah, anggap saja diantara kita tidak ada apa-apa”.)

Diru  merobek saputangannya dan menyerahkan belahan sobekan saputangan itu ke pada nenek Neina, sebagai symbol putusnya hubungan mereka waktu itu. Akhir cinta pertama nenek Neina kandas seperti kisah Siti Nurbaya.  Seperti orang yang putus asa nenek akhirnya menerima pinangan datuak Mali.

Upacara pernikahan nenek dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam, berbagai kesenian daerah di gelar disini, orang-orang kampung dari penjuru desa yang mengenal kecantikan nenek pun datang tanpa di undang untuk melihat bunga desa itu di sunting pria kaya yang terpandang di desa tersebut.  Malam hari selama tujuh hari tujuh malam digelar berbagai kesenian daerah khas minang seperti Randai dan saluang, dan siang harinya di meriahkan oleh lantunan musik kasidahan.  Sungguh upacara pernikahan yang  fenomenal saat itu seorang datuak mempersunting gadis yang paling cantik didusun tersebut, tak jarang para tetamu yang datang merasakan decak kagum yang  berlebihan.

Namun kemeriahan pesta yang dilangsungkan tujuh hari tujuh malam itu hanya sekedar upacara pernikahan saja.  Dimalam ke enam nenek tidak duduk di pelaminan mendapingi datuak Mali, dengan alasan kepalanya sakit dan butuh istirahat agak semalam.  Hati siapa yang tak akan bangga bila dapat mempersunting gadis secatik nenek Naina, Datuak Mali pun mengungkapkan cintanya dengan membiarkan nenek untuk beristirahat sendiri sesuai keinginan nenek Naina di kamar pengantin, sembari dia tetap melayani para tamu minum kopi dan bersorak sorai mendengarkan Randai.

“Datuak kapalo ambo agak paniang, buliahlah kironyo ambo istirahat sabanta bagolek dikamar surang”,

”sakik baa’ nai paralu minum ubek ndak?”,

”indak baa do… nai mungkin kurang lalok sajo lah bara hari ko”,

”bialah ambo kawani nai di kamar yo?”,

”Indak jan lai… malu awak jo tamu-tamu… beko sangkonyo indak tanantian alek salai do, jan lai malu Nai datuak..”,

”Kok baitu iyo lah indak baa do ambo anta Nai ka kamar yo?”,

”Indak usah lai datuak nai lai bisa sorang nyo, si Mik induak bako nai lai ka mangawanan”,

(“Datuak kepala saya terasa sedikit pusing, boleh saya istirahat sendiri dikamar”,” sakit kenapa perlu minum obat nggak?”,”Nggak apa-apa mungkin karna kurang tidur beberapa hari ini”,”Biar saya temani dikamar ya?”,”Jangan malu sama tamu-tamu, nanti mereka menyangka kita terburu-buru nggak nunggu pesta selesai dulu, Nai malu datuak”,”baik lah kalau begitu tidak apa-apa, biar saya antar ke kamar ya”,”Tidak usah datuak Nai lai bisa sorang nyo, si Mik keluarga dari ayah Nai ada yang akan menemai Nai”.)

Rupanya percakapan itu menjadi percakapan terakhir bagi pasangan suami istri sebatas pelaminan itu.  Malam hari tepat pukul 12 malam nenek Neina rupanya telah mempersiapkan diri untuk kabur meninggalkan suami yang baru saja menikahinya, berbekal 3 pasang longdres dan uang secukupnya nenek kabur menyelinap di tengah keramaian pesta pernikahannya dengan Datuak Mali.  Rupanya nenek di bantu oleh teman wanitanya bernama Nimai. Di batu gajah saat itu rumah-rumah penduduk masih berbentuk rumah gadang, dimana lantainya terbuat dari papan berbentuk rumah panggung dan di bawah lantai rumah di jadikan untuk menyimpan hewan ternak seperti bebek, dan ayam. Keadaan rumah gadang saat itu sangat menguntungkan buat nenek Naina.  Dengan menyelinap kebawah lantai rumah gadang dari kamar pengantinnya nenek akhirnya lolos dan dapat keluar secara diam-diam tanpa diketahui siapa saja. Nimai membantu nenek untuk kabur karena Nimai tau nenek sangat terluka karena pernikahannya dengan datuak Mali. Niamai teman nenek dari kecil hingga bagaian terkecil dalam hidup nenek pun Nimai sangat paham. Nimai mengantarnya menuju kota Payakumbuh untuk bertolak menuju kota Padang.  Perjalanan menuju kota Payakumbuh ditempuh dengan berjalan kaki lebih kurang 6 jam perjalanan, namun nenek telah di tunggu dengan roda pedati sewaan Nimai.

Pagi hari Minggu Pagi Bis menuju kota Padang pun segera berangkat membawa nenek Naina ke suatu tempat yang tidak diketahui keluarganya di kota Padang.

Pagi hari beberapa orang yang ingin membangunkan nenek Naina pun sontak geger, terhadap peristiwa hilangnya nenek Naina.  Seluruh keluarga nenek marah dan keluarga datuak Mali pun merasa di beri malu oleh tindakan nenek Neina ini.  Saat itu juga keluarga datuak Mali memutuskan hubungan silaturahmi keluarga dan jatuhlah talak cerai datuak Mali pada nenek Neina di hari ketujuh usia pernikahannya, ucapara pernikahan yang menuai decak kagum itu pun berubah jadi kesedihan di antara kedua belah pihak dan berakhir dihari ketujuh dengan perpisahan.

Tak terasa dua tahun nenek Naina hidup dan tinggal bersama salah satu keluarga kami di Indarung Padang tepatnya di kelurahan karang putih, tempat Pabrik Semen Padang berdiri kokoh.

Nenek tinggal bersama keluarga Kakek Siri sepupu dari nenek buyudku, yang bekerja di Pabrik Semen Padang.  Setiap jam makan siang nenek Neina selalu mengantarkan makanan untuk kakek Siri yang dibuatkan oleh istrinya.  Kecantikan nenek pun tak jarang memikat pria-pria kaya yang bekerja sebagai buruh pabrik di PT. Semen Indarung Padang. Dan sebagai orang yang tidak menyukai perjodohan Gaek Siri pun memberi kebebasan kepada nenek Naina untuk memilih sendiri pasangan hidupnya, walaupun sekarang nenek sudah berstatus janda tapi gadis.

Tumbuh sebagai gadis blesteran dan akan memiliki banyak keturunan yang cantik dan tampan serta memperbaiki sikap yang salah di masa lalu adalah keinginan tersendiri bagi nenek Naina, Namun untung memang tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, begitu banyak pejabat dan pria-pria kaya yang ingin menikahi nenek akhirnya nenek terpikat pada orang kampung sendiri yang masih ada hubungan dengan keluarga kakek Siri, seorang tukang dendang (Peniup Seruling dalam keseninan saluang).

DJusan… pria hitam manis yang tampan  dengan seribu rayuan menggoda akhirnya berhasil menaklukkan hati nenek Naina.  Jusan adalah kakek ku yang menikahi nenek sebagai istri keduanya setelah menceraikan gadis keturunan India yang tidak dikaruniai anak. Nenek Naina pun akhirnya mengakhiri drama pelariannya dengan pulang bersama pria sederhana dan bukan orang kaya ke hahadapan orang tuanya di Payakumbuh.

Pernikahan nenek Naina pun dilangsungkan dengan upacara yang apa adanya dan tidak seperti pernikah sebelumnya yang megah dan meriah,  tak beberapa hari dirumah nenek Naina dan Kakek Djusan pun bertekad untuk merantau kembali ke Padang.

Akhirnya buah cinta nenek Naina dan Kakek Djusan lahir, yaitu seorang putra bernama Sarjunas.  Papaku lahir dengan wajah yang tampan tapi sayang masa kecil dan kebahagian mereka pun harus mengalah karena ekonomi keluarga yang sangat buruk, lama kelamaan uang hasil dendang kakek Djusan tidak mencukupi lagi untuk menafkahi papaku dan nenek Naina, bahkan untuk makan pun sering dibantu oleh kakek Siri yang masih bekerja sebagai buruh Pabrik.

Usia Nenek Naina dan Kakek Djusan sebenarnya tidak terpaut begitu jauh, tapi kedewasaan Nenek Neina tidak terimbangi oleh kakek Djusan yang masih berfikir mencari nafkah hanya untuk hari ini.  Tak jarang pertengkaran demi pertengkarang pun terjadi.

“Uda… carilah pitih sungguah-sungguah, jan badendang ka badendang juo lai, karajo lah samo uwan Siri di Semen Padang, nak cukuik balanjo bulan ka bulan”,

”Pandai-pandai se kau mangecek kini mah, kan lai makan juo kau dek den ndak, basuyukurlah kau saketek”,

”Uda anak kito si jon ka gadang manolah cukuik pitih untuaknyo gadang kalau untuak makan sajo awak masih mautang?”,

”Nyinyia bana kau ma… kau se lah yang mancari kalau baitu, samak aka den kalau di rumahko batangka se sapanjang hari”.

(“Uda cari lah duit dengan sungguh-sungguh, jangan hanya bermain music saja, bekerjalah dengan Uwan Siri di Semen Padang, untuk mencukupi kebutuhan kita bulan ke bulan”,” Pandai betul kamu bicara, bukankah kamu masih bisa makan bersamaku, bersyukurlah kamu akan itu”,”Uda anak kita si Jun akan tumbuh besar manalah cukup uang untuk masa depannya jika untuk makan saja kita masih berhutang”,”Cerewet banget sih kamu, kalau begitu kamu saja yang cari uang, pusing saya kalau dirumah ini bertengkar terus sepanjang hari”.)

Pertengkaran-demi pertengakaran semakin menguatkan nenek Naina untuk berpisah dengan Kakek Djusan. Cinta mereka ternyata tak bisa menembus peliknya ekonomi keluarga yang buruk.  Untuk kedua kalinya Nenek Naina kabur lagi pulang ke rumah orang tuanya di Batu Gajah.

3 tahun sudah usia papaku, yang dibesarkan sendiri oleh nenek Naina.  Nenek Naina yang dulu cantik jelita sekarang memutuskan untuk turun ke sawah, untuk menghidupi anaknya Sarjunas dan selama 3 tahun itu pula kakek Djusan hidup mengembara dari satu kota ke kota lainya. Nyaris papa ku tumbuh sendiri dengan lingkungannya dan hanya dirawat dan dibesarkan sendiri oleh keringat hasil kerja keras nenek Naina.  Dipenghujung tahun ke 4 kakek Djusan kembali ke Payakumbuh menyusul nenek dan papaku, untuk mengajak nenek Naina rujuk kembali membina rumah tangga mereka yang sudah tercabik-cabik oleh keadaan.  Tapi sayang hati nenek yang terlanjur sakit ditinggalkan tanpa kabar dan tanpa nafkah lahir batin membulatkan tekadnya untuk bercerai dari kakek Djusan.  Selama 6 bulan kakek Djusan menunggu jawaban nenek Naina untuk bisa rujuk kembali, penantian enam bulan itu ternyata tak berhasil nenek Naina memutuskan tetap untuk bercerai.  Akhirnya papaku kehilangan sosok ayah kandung di usia yang masih sangat kecil.

Kesulitan hidup dan perekonomian yang sulit memaksa nenek Naina kali ini untuk menerima pinangan seorang saudagar kaya yang berprofesi sebagai Toke Jawi (pedagang sapi) kurang lebih sama dengan suami pertama nenek datuak Mali.  Siapa yang tak kenal dengan datuak Maraun, toke jawi terkaya dan mempunyai banyak istri yang cantik-cantik.  Tapi tak dapat di pungkiri nenekku adalah istinya yang paling cantik hingga ia lebih sering tinggal di rumah nenek dari pada di rumah istri-istrinya yang lain.  Nenek pun menjadi istri orang kaya dengan sawah yang banyak, ternak berpuluh ekor dan kehidupan yang berkecukupan.  Sayangnya ayah tiri tentu tak sesayang ayah kandung, namun kakek djusan memutuskan untuk merantau ke Jakarta tanpa membawa papaku serta dan tinggallah papaku dengan cerita singkat keluarga bahagia seujung pena di Kota Padang.

Usia Datuak Maraun terpaut sangat jauh dari usia Nenek Naina, perawakan tidak terlalu bagus, kulit hitam keriput dan jiwa bisnis yang keras  seakan bisa ku lukiskan tampangnya sekarang.  Hidup serba diatur suami, kaya tapi tidak bisa mandiri hingga urusan mendidik anak pun terabaikan. Sebelum Datuak Maraun Mangkat dia sempat menitipkan seorang putra di rahim nenek Naina yang diberi nama Mardinas.

Keluarga kecil itu akhirnya bahagia sejak kelahiran adik laki-laki papaku yang membuat iri para istri-istri datuak Maraun yang lain, tapi tidak dengan papa ku yang di perlakukan keras dan kurang adil, papa tumbuh dengan mental yang bagus dan sangat pintar hanya saja harus putus sekolah karna tidak di biayai. Papa ku di usia 6 tahun harus berjualan martabak keliling kampung untuk bisa berbelanja dan bersekolah.   Ironis memang nasib keluarga nenek Naina, tak lama berselang Datuak Maraun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan meneguk racun kiriman istri  yang lain.  Nenek Naina akhirnya harus berjuang kembali menafkahi kedua putranya dengan menyandang status janda ke 3 kalinya.

“Jun…. ado taligram dari Jakarta ko ha dari apak ang jun”,

”iyo mak apo isinyo..”,

”ko ha bacolah datuak ganduang nan mambokan surek kok dari kantua pos ka patang”,

”Apak manyuruah den ka Jakarta mah mak, inyo bakirim pitih jo wesel pulo mah mak untuak den pai ka Jakarta tu”.

(“Jun… ada telegram dari Jakarta dari Bapakmu”,”iya mak apa isinya?”,”ini baca sendiri kemaren datuak Ganduang yang membawakan suratnya dari kantor pos”,”Bapak menyuruh saya untuk dating ke Jakarta, dia juga mengirimkan wesel untuk ongkos ke Jakarta”,) Papaku tentu sangat gembira.

Setelah berfikir panjang nenek Naina akhirnya membiarkan papaku pergi merantau menyusul kakek Djusan ke Jakarta, sayangnya nasib papa tak jauh dari ayah dan ibu tiri, ternyata di Jakarta kakek Djusan sudah menikah dengan orang jawa dan sudah di karuniai 3 orang adik.  Akhirnya sesampai di Jakarta papa pun harus bekerja keras karna semua tak seperti yang dibayangkan papa sebelumnya merantau ke Jakarta dengan keindahan dan kemewahan.

Papa berprofesi sebagai tukang bengkel dan ahirnya menjadi supir micromini di Jakarta.  Papa adalah sosok anak yang baik dan mengingat ibu yang melahirkannya. Setiap bulan papa selalu mengirimkan nenek Naina uang. Hingga akhirnya uang yang dikumpulkan oleh nenek Naina dari kiriman papa dibelikan ke hewan ternak dan sawah.  Sapi dan hewan ternak nenek Naina akhirnya banyak dan membutuhkan orang untuk menjaganya.  Apalagi sawah yang harus dikerjakan dan di jaga panennya membuat nenek harus mencari orang untuk membantunya.  Nenek Neina baru saja ditinggalkan kedua orang tuanya, untung ada  Idris seorang pemuda yang membantu nenek memelihara hewan ternak dan sawahnya, pemuda dari kampung seberang yang baik dan santun pada nenek.

Seiring sejalan hari demi hari menumbuhkan rasa sayang dan cinta Idris pada Nenek Naina, maklum saja perawakan nenek Naina yang cantik dan tak berubah oleh keadaan membuat hati pria mana saja melupakan statusnya sebagai janda beranak dua.  Akhirnya seijing papaku dan adik    laki-lakinya nenek Neina akhirnya menikah dengan Idris.  Usia pernikahan yang sangat lama dari pernikahan nenek Neina sebelumnya.  Usia nenek Niana lebih tua 10 tahun dari Idris namun kesederhanaan membina rumah tangga memperlama usia pernikahan beda usia ini.

Papaku yang tumbuh dewasa di kerasnya kota Jakarta melabuhkan hatinya pada soerang gadis keturunan Jawa anak seorang Brimop yang tinggal di komplek kepolisian Pulau Gadung, sedangkan kakek djusan hanya menjadi tukang cukur rambut disana.  Suatu hal yang sangat sulit untuk diwujudkan, namun ketulusan cinta dan tekad papa akhirnya bisa mengantongi izin dari ayah mertuanya yang tak lain adalah kakekku.  Papa akhirnya memboyong mamaku pulang ke Payakumbuh dan membina rumah tangga dengan bahagia.  Tekad papa untuk membesarkan dan menghapuskan ketidak beruntungan seperti yang dialaminya akhirnya terwujud.

Adik laki-laki papa yang dulu kecil kini tumbuh dewasa dan seraya juga aku yang lahir kedunia sebagai buah cinta papa dan mama ku.  Adik laki-laki papa di besarkan dan disekolahkan oleh mamaku dan akhirnya bekerja ke Bengkulu.

Jodoh siapa yang tau  dan berapa lama pun kita tak bisa menakarnya. Idris suami ke empat nenek Naina sangat baik padaku, aku merasakan punya kakek dan sangat dimanja olehnya, tapi sayang sisi buruk saat manusia lupa pada sang pencipta mulai terkuak, kabiasaan Kakek Idris yang suka berjudi tak jarang menyulut emosi adek laki-laki papaku.  Hingga suatu malam keduanya perang senjata dan ingin saling membunuh.  Keadaan yang demikian sungguh tak menguntungkan bagi nenek Naina, tanpa pertengkaran dan ketidak cocokan akhirnya nenek Naina dan kakek Idris memutuskan berpisah. Nenek Naina lebih memilih membela putranya ketimbang mempertahankan pernikahannya dengan kakek Idris.

Perceraian nenek Naina tidak menyulutkan api bahagia nenek Naina karena sudah aku yang tumbuh menjadi gadis belia. Aku tumbuh tentunya tak secantik nenekku di waktu mudanya, tapi bila nenek berjalan denganku orang pasti mengira dia adalah ibu kandungku.  Usia ku semakin lama beranjak dewasa dan mulai disibukkan dengan rutinitas sekolah dan kehidupan pribadiku, hingga aku hampir tak pernah mengunjungi nenek Naina lagi.

Adik laki-laki papa pun akhirnya menikah dan tinggal di rumah istrinya, nenek yang sudah menginjak usia 58 tahun sudah pasti merasa sangat sepi sendiri jauh dari anak dan cucu.  Sesekali aku atau nenek Naina masih saling datang berkunjung.  Hingga di usia  senjanya lima puluh sembilan tahun nenek bertemu kembali dengan cinta pertamanya.  Usia yang tak lagi muda untuk mengatakan masih cinta. Namun Tuhan punya cara yang berbeda mempertemukan cinta, secara tak sengaja ketika nenek menemaniku dalam pertandingan basket antar SMP nenek bertemu lagi dengan Diru, orang yang pertamakali di cintainya sampai lanjut usia sekarang, dan Diru pun telah ditinggalkan oleh istrinya untuk selamanya saat anak mereka masih kecil.  Saat ini Diru kebetulan masih bekerja sebagai kuli pembuat pagar sekolahku.

“Nai….  Baa’ kaba kini?”,”yo da Diru lai elok-elok sajo, bakarajo uda disiko kini yo, baa’ kaba anak jo rang rumah?”,”eh…. Itulah parasaian iduik nai, si tin lah maningga sangkek anak anak ketek lai, kini anak anak lah gadang lah lapeh ka sadonyo, awak yo tapaso mancari juo indak pulo sanang indak bakarajo, nai baa kini kabanyo iyo lari waktu manikah jo datuak Mali”,”oh…. Lah maningga, tu lah payah mah nak, manggadangan anak surang sajo, Itu lah da, ndak jodoh mungkin da, awak yo badoso tapi baa’ lai indak nan dihati”,

Seolah tak ingin kehilangan moment kedua kalinya kedua pasang insane ini mewujudkan kembali cerita cintanya dengan menikah di usia senja.  Nenek Neina tidak pernah terlihat sangat bahagia dengan pasangn hidupnya sebelumnya. Mahligai lima puluh dua tahun silam akhirnya terwujud juga dalam bahtera pernikahan.  Kemana mana selalu tampak bahagia, walau di usaiaku saat itu masih sangat muda untuk mengenal cinta aku bisa merasakan nenek Naina begitu mencintai dan sangat menyayangi Diru yang akhirnya harus menjadi kakekku yang ke lima.

Keelokan budi kakek Diru membuat dia menjadi malaikat penyelamat kehidupan bagi nenek Neina, cinta nenek Neina begitu tulus pada suami terakhirnya.  Waktu terus beranjak jauh ke depan dan usia yang tak muda lagi tentu tak akan seperti gadis belia nan cantik jelita lagi.  Tanpa nenek Neina menyadari ada yang berubah dari kakek Diru secara berlahan, romantisme pernikahan yang dulu di agung agungkan mulai memudar seiring waktu.

Diusia yang tak muda lagi untuk selingkuh, akhirnya kakek Diru pun terjebak pada cinta seorang janda muda dari kampung sebelah tempat nenek Naina bertempat tinggal.  Setelah saat itu aku tak pernah melihat senyum manis yang keluar dari wajah nenek Naina, walau pun keluargaku sekarang bukan keluarga kaya tapi semua berkecukupan untuk membahagiakan nenek Naina, tetep saja cintanya pada kakek Diru tak mampu tergantikan oleh apa pun yang kami suguhkan.

Hari-hari berkawan sepi, berharap setiap kali duduk di depan pintu rumah gadang kakek Diru akan pulang.  Walau tak terlihat jelas aku bisa merasakan nenek begitu sedih dan terluka.  Serasa hidup di pengasingan menanti kabar yang tak akan mungkin datang. Siang dan malam nenek selalu terkenang akan masa lalunya.  Tubuh yang kini sepi jauh dari keramaian dan kekasih hati yang di cintai membuat nenek Naina jatuh sakit.

Tiga tahun pasca di tinggalkan kakek Diru kondisi kesehatan nenek Naina semakin memburuk, diujung usianya dia baru bisa bercerita pada kami, bahwa sanya cintanya begitu besar tapi ia juga telah mengecewakan banyak hati yang mencintainya dengan tulus.

Aku yang sudah mulai mengenal ketertarikan pada lawan jenis, membuat hatiku enggan dan takut akan merasakan hal yang sama dengan nenek Naina.

“Enggie….. kalau sajo nenek bisa baliak mudo, mungkin nenek ka bapikia panjang untuak mancintoi laki-laki, sayang sangkek dek mudo hanyo emosi nan ka muko, pangalaman agamo kurang pulo, akhianyo setan nan mampadayo hati”,”nenek manga mangecek baitu, nenek takana jo gaek Diru yo?, saba lah nek mungkin sado itu untuang nenek jo inyo nek”, aku menggenggam tangan nenek yang terbaring di kasur.

“enggie… kalau saja nenek bisa kembali muda, mungkin nenek akan berfikir panjang untuk mengcintai laki-laki, sayangnya sewaktu muda hanya emosi yang di dahulukan, pemahaman agama kurang, akhirnya setan memperdaya hati”,”nenek kenapa bicara seperti itu, nenek teringat akan kakek Diru?, sabar saja nek mungkin takdir nenek hanya sebentar dengannya”.

Seiring berjalannya waktu nenek Naina pun telah menjadi pikun dan hampir tak bisa mengenali kami lagi.  Penyesalan memang datang terlambat, dan karma itu pun berlaku pada kakek Diru yang telah meninggalkan nenek.  Kakek Diru pun mendapatkan pembalasan yang sama ditinggal selingkuh istri mudanya.  Kakek Diru yang datang dengan sejuta penyesalan hanya bisa meratapi akhir cintanya yang kelabu bersama nenek Naina, karna sama sekali nenek Naina tak bisa mengenalinya lagi.

“Nai…. Maafan ambo nai, ampunkan denai”, (“Nai maafkan saya, ampuni kesalahan saya”),”hai… hai…. Sia pulo iko maminta ampun ka den…. Tuhan den katonyo ko lah…. Hahahahaha…”,”( hai.. hai…. Siapa ini yang minta ampun pada saya, memangnya saya Tuhan apa hahahahhahah”)

Sungguh sangat memilukan kakek Diru menyadari betapa tulus cinta nenek Naina padanya saat dia tak bisa mengenali cinta itu lagi.  Setumpuk kehampaan dan kehancuran terlihat jelas di wajahnya, cinta yang terlambat disadari hingga tak akan pernah termiliki lagi.

Banyak hal yang ku petik dari kisah cinta nenekku Naina, dan bila nanti aku tumbuh dewasa, aku hanya ingin mencintai dan dicintai oleh satu orang saja, tanpa membagi hatiku pada waktu atau keadaan, saat cinta dalam hati itu ada peliharalah dan abadikan senantiasa dalam jiwa agar keharumannya menghangatkan kehidupan berumah tangga.  Bahagia di dunia dan bahagia pula di akhirat nanti.  Cinta adalah anugrah terindah dan siapa saja tak bisa meminta begitu saja tapi dia datang secara tiba-tiba, namun bisa cinta bisa mematikan semua cahaya di kehidupan.  Berbahagialah mereka yang dipenuhi oleh cinta.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: