Dari 0.18 Persen menuju 2 Persen Wirausahawan

23 12 2009

Rumusan David McClelland, suatu negara dapat dikatakan makmur, minimal harus memiliki jumlah entrepreneur atau wirausahawan sebanyak dua persen dari total populasi penduduknya, kini kembali populer. Indonesia baru memiliki 0,18% atau 400.000 jiwa saja dari total populasinya yang menjadi wirausahawan. Setidak-tidaknya pernyataan ini muncul kembali dalam Workhsop Kewirausahaan Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas di Jakarta baru-baru ini (17/12).

Menurut menteri Pendidikan Nasional, bapak Mohammad Nuh dalam sambutan pembukaannya saat ini angka 0.18 menjadi keramat. Untuk menaikkan angka ini menjadi 1 persen perlu ikhtiar luar biasa mengkapitalisasi segala sumber daya yang kita miliki.  Tidak tanggung-tanggung, menurut bapak Menteri untuk naik menjadi satu persen membutuhkan akselerasi 500 persen. Tapi jangan khawatir, kata bapak Menteri, angka 500 persen dimulai dari angka satu.

Mengacu pada tiga piramida lapisan masyarakat (lapisan bawah, mayoritas: Dependent society, ditengah: independent society dan teratas: interdependent society), kita kata bapak Menteri, sedang menuju Independent society. Tidak berhenti pada tahap itu, tambah bapak Menteri, karena kita harus menjadi orang, masyarakat/komunitas dan negara bangsa yang  saling tergantung/membutuhkan (interdependent society) dengan orang, komunitas, dan negara lain di dunia.

Hari ini kita baru memulai dari skop perguruan tinggi, kalau ini ditekuni, dikerjakan secara istiqomah, dijadikan hobi, maka akan naik ke tingkat komunitas, negara dan bangsa, optimis bapak Menteri. Dan pergerakan angka wirausahawan, kata bapak Menteri tidak lagi bergerak linear, tapi eksponensial.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, bapak Fasli Jalal mengatakan dengan upaya yang telah dilakukan oleh Depdiknas kita optimis akan mendapatkan 2 persen wirausahawan dari total populasi Indonesia. Dikti bekerjasama dengan Ciputra telah melatih sebanyak 1500 dosen dan 300 perguruan tinggi sudah mengembangkan pola-pola pendidian kewirausahaan mereka di dalam kurikulum, ko kurikuler dan ekstra kurikuler.

Selama tahun 2009 Dikti bersama perguruan tinggi telah melakukan program prioritas nasional, kewirausahaan mahasiswa. Secara kompetitif, mahasiswa mendapatkan delapan juta per mahasiswa dan karena mereka berkelompok tiga sampai lima orang, maka total yang diberikan Rp 40 jutaan perkelompok. Mereka mendapatkan pengalaman dua tahun dan jumlah dana itu bisa menjadi equity yang layak untuk mendapatkan kredit perbankan. Dikti juga telah mengembangkan program kewirausahaan kerjasama dengan Kadin. sudah dilakukan workshop dan pelatihan kewirausahaan kepada mahasiswa dan dosen di enam perguruan tinggi.  tidak kurang dari 1300 mahasiswa  telah mengikuti worskshop online kewirausahaan.

Sumber Berita : Website Dikti (www.dikti.go.id)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: