Fenomena S4 atau S2 kwadrat

31 05 2008

Ditulis : Janto Marzuki – Stockholm, Swedia

Zev yang baik, barusan saya menerima email dari teman, dari salah satu mahasiswa kita di Stockholm. Menulis kalau mau pamitan, sebentar hanya mau pindah kekota lain mulai weekend ini. Terpaksa, oleh karena dapat memudahkan studinya, “Akan pindah campus pak Janto,” katanya.

Tak terasa sambil membaca tulisannya, angan angan saya terbawa dan mulai membayangkan jalan hidup mahasiswa ini. Salah satu mahasiswa kita di Stockholm yang saya kenal dan sering ketemu diacara pertemuan yang kadang diadakan di/oleh KBRI. Sejenak, terpercik ide untuk menulis ’status’ mahasiswa kita di LN, seperti mahasiswa yang saya kenal ini, yang ternyata tidak asing di Stockholm dan saya yakin juga terjadi di negara lain.

Penamaan dari tingkatan pendidikan seseorang dari perguruan tinggi, di Indonesia sering dipakai istilah S1, S2, S3 ….masih ada lagi? Mahasiswa ini termasuk mahasiswa ’S2 Kwadrat’. Sudah pernah dengar istilah ’S2 Kwadrat’ atau mungkin ’S6’? Kenyataannya ada beberapa mahasiswa kita di Swedia yang termasuk kategori ini.

Sebagai orang tua wajar menginginkan anaknya pergi kesekolah, belajar dengan baik, menuntut ilmu supaya menjadi pintar, kemudian dapat naik kelas dan akhirnya menyandang suatu titel yang dapat menjadikan bekal menghadapi kehidupan esok hari. Juga sudah sewajarnya kalau orang tua dengan harapan yang besar berusaha agar anaknya mendapatkan sekolah yang bagus reputasinya. Bagi keluarga yang benar benar mengharapkan anaknya untuk dapat masuk ke PT yang diidamkan, ada orang tua yang sampai berani membayar puluhan juta Rp supaya anaknya dapat diterima di PT tsb meskipun misalnya nilai/angka ijasah anaknya ternyata kurang memenuhi persyaratan.

Banyak alternatif yang anak dapat tempuh di tingkatan setelah SMA, seperti antara lain sekolah kejuruan, akademi maupun universitas. Yang dapat saya amati di Indonesia, memang pendidikan ditingkatan PT merupakan suatu keharusan bagi setiap anak untuk mendapatkannya. Kemudian, setelah anak tsb dapat menyelesaikan studinya dengan baik tentunya akan menyandang suatu titel sesuai dengan pendidikan yang telah anak tempuh. Dengan bekal ini, mereka akan melamar dan mencari pekerjaan yang mereka inginkan. Tidak ada yang janggal sampai disini, saya menyadari karena dengan penduduk Indonesia yang berlimpah, menjadikan saingan untuk dapat mendapatkan suatu pekerjaan semakin besar, sedangkan semakin hari tentunya lowongan lapangan pekerjaan semakin sempit dan berkurang. Maka dari itu, suatu perusahaan atau departemen di Indonesia sering memakai sebagai persyaratan bagi pelamar pekerjaan untuk dapat diterima sebagai pegawainya memiliki titel dari suatu PT. Saya dapat mengerti kalau akan menjadi seorang pengajar di univeristas atau di lembaga research, memang seyogyanya mempunyai pendidikan setinggi mungkin.

Setelah anak mendapatkan kesarjanaannya, ternyata itu belum merupakan suatu garansi untuk mendapatkan suatu pekerjaan di Indonesia. Ternyata mereka yang telah menyandang S1 sudah seabrek. Salah satu cara untuk dapat menambah bobot harga saing yaitu antara lain dengan jalan belajar ketingkatan selanjutnya, dan timbullah ide untuk studi ketingkatan S2. Belajar ternyata tidak murah, dicarilah beasiswa dan yang tentunya akan lebih menarik kalau dan apalagi berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar di PT di LN. Wow…

Singkat cerita, beasiswa berhasil didapatkan dengan berhasilnya lolos testing bahasa dan dengan terpenuhinya persyaratan lain yang diwajibkan, berangkatlah anak tsb kenegara tujuan dan dengan rencana dapat tinggal dan menyelesaikan studinya dalam waktu sekitar 2 th.

Saya mengenal beberapa mahasiswa kita yang lagi dan pernah belajar di Swedia, yang mengambil S2 atau S3 nya. Beberapa mahasiswa telah kembali ke Indonesia dan ada yang berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang mereka pelajari sewaktu di LN, ada juga yang terpaksa bekerja di Indonesia dibidang yang jauh dengan apa yang mereka harapkan atau inginkan sebelumnya.

Diantara mahasiswa tsb ternyata ada juga yang merasa bimbang dan ragu untuk kembali pulang ke Indonesia, setelah mereka berhasil menyelesaikan studinya. Mereka merasa betapa sulitnya untuk mendapat pekerjaan di Indonesia nanti, terutama pekerjaan dibidang yang sesuai dengan pendidikan yang mereka dapatkan di LN. Disamping itu, mereka telah sempat mencicipi dan merasakan ternyata ’ada’ enaknya tinggal di LN, meskipun tidak mudah dan gampang menjalaninya. Untuk dapat hidup di LN memerlukan biaya hidup yang tidak sedikit. Sedangkan dengan kendala bahasa (negara yang bukan bhs Inggris atau bhs yang ’besar’) dan tanpa pengalaman kerja sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus atau kerja kantoran. Ijin tinggal dan ijin kerja harus memilikinya, padahal beasiswa telah habis.

Apa yang terjadi, banyak mahasiswa kita berusaha untuk mencari beasiswa baru, dinegara yang barusan mereka mengambil S2-nya maupun dinegara lain di LN. Biasanya program barunya tidak jauh disiplinnya dengan program S2 yang telah diraih sebelumnya. Ternyata banyak yang berhasil mendapatkan beasiswa baru tsb. Hmm… paling tidak 2 th dapat tinggal di LN lagi. Kalau mereka berhasil menyelesaikan studi S2 yang kali ke 2 ini, akan disandanglah titel Master yang ke 2 kalinya, S2 dua kali atau ’S2 kwadrat’ atau ’S4’. Saya mengenal beberapa mahasiswa kita yang tinggal (juga pernah) di Swedia yang memiliki Master untuk kedua kalinya. Tidak berhenti disini, saya tahu ada mahasiswa kita yang masih berusaha apply beasiswa untuk S2 yang ke 3 kalinya. Nah lho… akan muncullah istilah baru ’S6’ !

Sayang saya tidak sempat menanyakan alasannya ke mereka, mengapa mengambil master beberapa kali. Apakah mereka masih haus ilmu? Apakah mereka was-was untuk pulang oleh karena takut tidak mendapatkan pekerjaan di Indonesia? Apakah ilmu yang mereka pelajari tidak mungkin atau susah untuk diterapkan di Indonesia? Apakah mereka mulai merasakan ada enaknya tinggal di LN? Atau ternyata hanya salah memilih program? Tahulah…

Agak berbeda keadaannya dengan dinegara saya tinggal, Swedia. Perusahaan lebih mengutamakan mempunyai pekerja yang dapat mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik di perusahaan tsb. Kalau misalnya saja calon pelamar ternyata mempunyai pendidikan dari suatu PT (bertitel) tentunya akan lebih baik. Penerapan gaji, juga lebih cenderung berdasarkan tingkat kesulitan, berat dan tanggung jawab pekerjaan apa yang seorang pekerja lakukan, tidak hanya semata-mata berdasarkan dari titel seseorang.

Tinggal di Swedia, orang tua tidak berhak lagi menentukan jurusan apa dan dimana anak harus melanjutkan sekolahnya di PT, anak telah menjadi seorang dewasa, merekalah yang menentukannya sendiri. Sebaliknya, saya sebagai orang tua tidak mempunyai kewajiban untuk membiayai pendidikan dan kehidupan mereka lagi. Sebagai bapak, saya hanya dapat membesarkan hati, memberikan wawasan, berusaha membeberkan fakta dan menceriterakan pengalaman dari yang saya miliki. Menerangkan konsekwensi, kemungkinan dan kelemahan dari alternatif yang ada dan yang mungkin mereka akan memilih salah satunya.

Mengingat biaya hidup sebagai mahasiswa di Swedia mahal, sering pendidikan yang terlalu tinggi kurang menguntungkan, contohnya saja S3. Seperti diketahui, sekolah di tingkatan PT di Swedia tidak perlu bayar. Biaya yang harus dikeluarkan bagi seorang mahasiswa adalah biaya kesejahteraan mahasiswa (sekitar 50 Euro/semester), buku/kurikulum, rumah, makan dan kebutuhan sehari-hari. Kebanyakan suatu pekerjaan tidak memerlukan pendidikan yang terlalu tinggi, selain itu semakin lama kita belajar disekolah semakin banyak waktu diperlukan untuk belajar. Selanjutnya menjadikan lebih sulit atau lebih lama menunggu untuk memulai bekerja dan yang mengakibatkan waktu untuk menabung untuk pensiun kita semakin pendek dan efeknya besar pensiun kita nanti menjadi berkurang. Sedangkan besar gaji untuk pekerjaan yang serupa, setelah dipotong pajak ternyata tidak jauh berbeda, meskipun titel yang mereka sandang tidak sama tingkatannya.

Saya pernah menganjurkan keanak-anak saya, kalau pertimbangan mereka nanti akan tinggal dan bekerja di Swedia saya sarankan mereka untuk mengambil sekolah kejuruan atau ketrampilan. Yaitu suatu pendidikan yang singkat, gampang mendapatkan pekerjaan dan tidak terlalu membuang waktu dan uang. Sebagai contoh misalnya saja pendidikan untuk menjadi seorang tukang las (welding specialist), ditanggung pasti mendapat pekerjaan begitu selesai dan keluar sekolah. Sedangkan kalau mereka mempunyai keinginan, meskipun kecil, suatu ketika dapat bekerja tidak di Swedia, saya anjurkan anak-anak saya untuk belajar di PT yang cukup terkenal dan tingkatan pendidikannya diakui secara global. Setahu saya pendidikan di PT yang besar dan terkenal di Swedia diketahui dan diakui kwalitasnya diseluruh dunia. Anak anak saya ternyata memilih dan telah memulai belajar di PT yang ini.

S1 tidak cukup, S2 lah yang kita kejar. Kalau S2 masih belum cukup, bimbang dan ragu untuk pulang atau tidak sreg untuk mengambil S3, kita kwadratkanlah S2. Begitulah keputusan yang kemungkinan dapat diambil, semoga itulah yang paling tepat. Teriring salam buat mas DeDy, salah satu mahasiswa ’S2 Kwadrat’ di Stockholm yang saya kenal dengan baik dan yang punya rencana dalam waktu dekat mengambil S2 yang ke 3 kalinya atau ’hanya’ S3 saja atau pulang ke Indonesia dulu cari pekerjaan sambil cari jodoh. Ada yang ingin kenalan dengan mahasiswa ini? Selamat mas !


Actions

Information

3 responses

18 06 2010
Wilda

apakah kenyamanan berada disana melupakan tanah kelahiran kita pak?kebetulan saya lagi menulis proposal participatory action research mengubah gaya belajar mahasiswa s2 di fakultas psikologi ugm,…jadi terbuka webnya bapak,……terimakasih atas wawasan dan wejangannya pak.

18 07 2010
Rahmat Hidayat

mungkin saja… PT LN memiliki dana riset yang besar yang sangat menarik hati orang2 kita untuk studi kesana..

19 09 2010
melinskiss

mantap artikelnya pak.. terima kasih ya.. kenyataannya memang ada perasaan lebih ‘aman’ untuk stay di negeri tempat belajar.. karena kalau balik ke indonesia, ekspektasi orang2 terdekat sudah berlebihan.. belum bekerja (karena terlalu selektif) pun jadi bikin KANGEN bekerja dan sekolah di luar negeri🙂 tapi dunia nyata, menurut saya, tetap di negeri sendiri. setidaknya saya bersama keluarga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: