Stimulus Nonekonomi

14 04 2009

penulis artikel : Rhenald Kasali, PhD, dipublish : Kompas, 13 April 2009

Kita patut bersyukur pemilu telah berjalan dengan aman sehingga perekonomian tidak terganggu. Namun, kita harus tetap waspada, sebab siapa pun tak mungkin mendapatkan hasil yang berbeda dengan cara mengelola perekonomian yang sama berulang-ulang. Tak peduli berapa besar suntikan stimulus ekonomi yang ditanam di tengah-tengah ancaman krisis ini, dengan cara bekerja yang sama, hanya masalah yang samalah yang akan dituai. Maka ketika paket-paket stimulus ekonomi digelindingkan, kita perlu menanyakan di mana dan kapan paket-paket stimulus nonekonomi akan digulirkan?

Paket-paket stimulus nonekonomi sebagian besar bersifat controlable karena ada di tangan pemerintah dan jajaran birokrasinya, mulai dari pelayanan, kecepatan respons, kesatuan tindak, perizinan, pengadaan, pemberantasan korupsi, hingga tumpang tindihnya masalah hukum. Namun, selain pendekatan pada tulisan ini, stimulus nonekonomi juga dapat dilakukan di luar APBN dengan memberikan ruang kepada swasta agar terlibat melakukan stimulus.

Janganlah kita berpikir urusan pemberantasan korupsi sudah selesai dengan keberadaan jampidsus dan tipikor (di samping KPK). Masih banyak titik strategis yang perlu didorong dan dirangsang agar simultan menggerakkan pertumbuhan. Demikian juga jangan pernah berasumsi stimulus ekonomi akan menemukan muaranya sendiri.

Masalah yang sama

Berapa pun besarnya APBN, ternyata masalah yang muncul selalu sama: pengadaan barang dan jasa selalu bermasalah (low quality); banyak PP yang salah sasaran, tidak akurat, dan terlambat; perizinan terlalu banyak, dan menyulitkan pengusaha kecil ”naik kelas”; peraturan pusat-daerah dan antardepartemen saling bertentangan; dan respons terhadap bencana selalu reaktif.

Masalah-masalah itu kalau disimpulkan menjadi sangat sederhana, yaitu terjadi proses incapacity. Hampir secara merata respons yang diambil para eksekutor paket-paket stimulus menghadapi dilema di lapangan. Sebentar-sebentar peraturan yang baru dibuat harus dikoreksi, atau sudah tidak relevan lagi, bahkan antistimulasi.

Ambil saja contoh Permenkeu Nomor 19/2009 (13 Februari 2009) tentang tarif bea masuk produk impor tertentu yang berdampak pada anggota koperasi susu (GKSI) karena tarif impor produk susu diturunkan menjadi 0 persen. Padahal, dua tahun silam, mereka didorong-dorong untuk membantu pemerintah memperbaiki gizi masyarakat. Produksi susu pun mereka tingkatkan, dari sekitar 1,7 juta kg susu segar setiap hari (sekitar 20 persen dari kebutuhan) menjadi sekitar 50 persen tahun 2012.

Beberapa pelaku usaha industri pengolahan susu mengakui bahwa Permenkeu itu antara lain berkat lobi mereka. ”Tetapi eksekusinya tidak tepat waktu.” Lobi itu diajukan setahun lalu, saat biaya bahan baku pangan melonjak tinggi. Namun, peraturannya baru keluar saat dunia menghadapi krisis dan harga susu anjlok (dari 5.200 dollar AS per metrik ton menjadi 2.350 dollar AS per metrik ton) dan dapat merugikan peternak di sekitar Nongkojajar, Batu (Jawa Timur), Boyolali (Jawa Tengah), dan Pangalengan (Jawa Barat).

Contoh lain adalah soal penanganan sampah yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Tahun 2008, parlemen menghadiahkan UU No 18 yang mewajibkan semua TPA ditutup dalam lima tahun ke depan, dan semua sampah harus diolah.

UU ini disambut para social entrepreneur yang antara lain mengolah sampah menjadi kompos. Tahun 2008 pula, Indonesia kesulitan bahan bakar gas dan pupuk. Saat kesulitan itu, Departemen Pertanian memberikan stimulus bantuan langsung pupuk (BLP) Rp 1.100 per kg yang diberikan lewat empat BUMN agar memproduksi pupuk granul berbahan dasar kompos.

Dengan stimulus itu, BUMN membeli kompos yang sudah diolah rakyat seharga Rp 300 per kg, dan setelah diproses menjadi butiran-butiran kecil dijual kepada petani seharga Rp 500 per kg. Padahal, tanpa granulisasi, kompos itu dihargai Rp 400 per kg. BLP mungkin menaikkan kualitas kompos beberapa persen, tetapi biaya mengonversi kompos itu naik sekitar 300 persen. Lebih jauh lagi, kebijakan itu mematikan usaha pembuatan kompos rakyat dan mengganggu pelaksanaan UU No 18/2008?

Masih banyak lagi contoh lain, tetapi intinya sederhana: tidakkah pemerintah perlu menstimulasi aparat dan lembaga-lembaganya terlebih dahulu sebelum menstimulasi perekonomian?

Kalau ditelusuri ke belakang, semua sumber kesulitan itu sebenarnya berpusat pada penataan organisasi birokrasi. Meski sebagian besar pejabat birokrasi berasal dari kampus-kampus terkemuka dan memperoleh pelatihan di luar negeri, penanganan birokrasi sangat buruk. Anehnya, hal ini sebenarnya diakui banyak menteri yang mengatakan bahwa mereka hanya bekerja dengan sekitar 20 persen pegawainya. Mau diapakan pegawai yang 60-80 persen yang katanya tak bisa bekerja itu? Tak ada yang bisa menjawab. Bahkan jabat tangan emas saja pun tak terpikirkan. Jabat tangan emas, bukan sembarang PHK, jauh lebih bermartabat karena memberikan kesempatan kepada PNS memperoleh kehidupan baru yang lebih manusiawi, daripada bekerja tanpa masa depan dengan gaji tak mencukupi.

Cara lama yang sudah tidak relevan, seperti kenaikan pangkat secara otomatis, metode penilaian dengan menggunakan formulir DP3, serta ketentuan mengenai golongan dan jabatan, sangat membelenggu birokrasi. Akibatnya, di jajaran tingkat tinggi, sulit didapat calon-calon muda yang lebih berkualitas. Tidak dapat menduduki posisi-posisi strategis karena terbentur oleh pangkat dan golongan yang berlaku kaku.

Lebih jauh lagi knowledge management tidak berjalan. Semua pengalaman, pengetahuan, dan praktik-praktik yang ada tidak terkomunikasi di antara para birokrat. Tidak ada sharing pengetahuan/data. Semua pekerjaan dibentuk ke dalam proyek-proyek sehingga setiap pejabat, termasuk menteri-menteri baru, harus mencari-cari cara dari isi kepalanya masing-masing.

Stimulus nonekonomi berbeda dengan stimulus ekonomi yang langsung ditujukan kepada pasar. Stimulus nonekonomi ditujukan kepada aparatur untuk menggerakkan perekonomian, menumbuhkan optimisme dan memperbaiki kapasitas





Manajemen Karir

21 07 2008

Abstract

The business and organizations environment that highly turbulent and complex, provide new organizational paradigms, that is boundaryless organization. The boundaryless organization is a paradigm shift that recognizes the limitations inherent in separating people, tasks, processes, and places, and emphasizes the benefits of moving ideas, information, decisions, talent, and actions where they are most needed. This paradigm shift implicated to human resource management practices; two of them are career systems and career development. Career is not a sequence of work. Career is a personal achievement. The new career is protean career, a career that is driven by the person, not the organization, and that will be reinvented by the person from time to time, as the person and the environment change. The ultimate goal of the career is psychological success. To accomplish career success, the role of organizations in develop a career systems is become important. The effective career systems and career development will increase employees’ motivation; increase their job satisfactions, and their productivity.

Key words: boundaryless organizations, career systems, career development

KONSEP SEPUTAR KARIR
Manajemen karir mencakup berbagai konsep yang sampai saat ini masih sering diperdebatkan definisinya. Meskipun demikian kita perlu mengetahui dan memahami definisi berbagai konsep yang berhubungan dengan manajemen kerier, agar kita mamiliki pemahaman yang lebih baik tentang manajemen karir. Read the rest of this entry »





Pentingnya Implementasi Corporate Social Responsibility Pada Masyarakat Indonesia

21 07 2008

Abstract

The program of Corporate Social Responsibility is the social program that provides a lot of contributions in solving social problems in job opportunities, health, education, economy, and the environment. The implementation of the CSR program still faces some obstacles, namely, the program has not been socialized. Another barrier is the difference of viewpoint between the Department of Laws and Human Right and the Department of Industry. The other is that there is no clear regulation on the implementation of CSR. However, CSR program can improve the spirit of togetherness among different communities.

Sejarah Singkat

Dalam konteks global, istilah CSR mulai digunakan sejak tahun 1970an dan semakin populer terutama setelah kehadiran buku Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998), karya John Elkington. Mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental protection, dan social equity, yang digagas the World Commission on Environment and Development (WCED) dalam Brundtland Report (1987), Elkington mengemas CSR ke dalam tiga fokus: 3P, singkatan dari profit, planet dan people. Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (profit). Melainkan pula memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). Read the rest of this entry »





The Knowledge Revolution and the Future of Careers

7 03 2008

Theme : Forget Jobs, Knowledge Workers Think Projects.
By Brendon Unland
Managing Partner, Dallas Technology Group

I. Introduction

The theme of our last white paper, The Knowledge Revolution and the Future of Organizations, was that business organizations are undergoing a profound, and radical revolution. Firms in the future will be little more than the intellectual capital their employees possess, grow and share. Read the rest of this entry »





Wikinomics di Perguruan Tinggi

26 02 2008
Sebuah Ide dari Bapak Lukito Edi Nugroho || http://percikan-ide-ti.blogspot.com/

Bapak Lukito Edi Nugroho adalah dosen saya waktu kuliah di UGM, sekilas mengenai latar pendidikan dari beliau ;

1. S3 2001 COMPUTER SCIENCE Ph.D MONASH UNIVERSITY
2. S2 1995 COMPUTER SCIENCE M.Sc JAMES COOK UNIVERSITY
3. S1 - TEKNIK ELEKTRO Ir UNIVERSITAS GADJAH MADA

———————————————————

Dalam perjalanan ke Medan minggu lalu saya membeli buku Wikinomics karangan Don Tapscott dan Anthony Williams. Buku ini menjelaskan tentang munculnya tatanan ekonomi baru yang sangat diwarnai oleh partisipasi dan kolaborasi. Sangat menginspirasi, mirip dengan bukunya Thomas Friedman, The World is Flat.

Tapscott dan Williams menjelaskan bahwa saat ini adalah eranya partisipasi dan kolaborasi, bahkan dalam dunia bisnis. Tidak ada satupun perusahaan di dunia ini yang mampu memberikan excellence tanpa dukungan dari pihak-pihak lain. Terbentuk sebuah jaringan nilai (networks of values) yang sangat kompleks yang dicirikan dengan keterbukaan, peering, saling berbagi (sharing), dan tindakan-tindakan global (acting globally). Dalam jaringan-jaringan ini terjadi aliran-aliran informasi yang secara sinergis meningkatkan nilai dari apa yang hendak dibangun. Gerakan Open Source, Wikipedia, MySpace, dan Flickr adalah contoh-contoh dari model baru tentang kolaborasi global yang membentuk wajah dunia saat ini melalui produk-produk fenomenalnya. Tapscott dan Williams menyebut model baru ini sebagai Wikinomics.

Prinsip dasar Wikinomics adalah kualitas resource yang tersedia di luar lingkup organisasi kita selalu lebih baik daripada yang tersedia secara internal, sehingga wajarlah jika muncul pemikiran untuk memanfaatkan resource eksternal tersebut untuk mendukung proses-proses internal. Apalagi teknologi informasi (TI) memungkinkan kita untuk merealisasikan pemikiran tersebut. Ditambah lagi dengan semangat sharing dan kolaborasi yang sekarang tumbuh, kuncinya hanyalah pada bagaimana “menarik” resources eksternal tadi untuk mau masuk. Kasus Goldcorp Challenge pada tahun 2000 menjadi contoh yang menarik: bagaimana perusahaan pertambangan Goldcorp mau membuka data-data eksplorasi mereka kepada umum untuk menarik minat pihak-pihak lain untuk ikut menemukan ladang tambang baru. Data-data pertambangan yang biasanya sangat dijaga kerahasiaannya justru dibuka kepada publik untuk dimanfaatkan guna mendapatkan nilai yang jauh lebih besar. Hasilnya ? Hanya dalam hitungan minggu, banyak sekali proposal yang masuk. Hadiah total sejumlah US$ 575000 bagi pemenang kontes menjadi tidak ada artinya dengan hasil yang diperoleh. Hari ini, perusahaan yang semula nilainya hanya sekitar US$ 100 juta berubah menjadi perusahaan yang bernilai US$ 9 miliar.

Ide yang radikal tapi penuh perhitungan pada akhirnya membuahkan hasil yang manis.

Mungkinkah kira-kira Wikinomics diterapkan di dunia pendidikan, khususnya untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan tinggi ? Menyediakan layanan pendidikan tinggi yang berkualitas memang sejak lama menjadi masalah bagi banyak institusi pendidikan di Indonesia. Ketidakmampuan menyediakan kurikulum, materi pembelajaran, dan dosen yang bermutu membuat output perguruan tinggi kita masih belum bisa berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi. Pertanyaannya, dapatkan prinsip-prinsip Wikinomics dipakai untuk memecahkan persoalan ini ? Asumsi yang dipakai sama: resource eksternal lebih baik dan lebih tersedia daripada resource internal. Artinya, kurikulum, materi kuliah, dan bahkan dosen bisa saja berasal dari luar. Kurikulum dibuat dengan semangat kolaboratif (mirip dengan Wikipedia). Materi kuliah bisa saja dibuat oleh dosen dari perguruan tinggi lain, atau mengambil yang sudah jadi (seperti yang disediakan oleh MIT Open Courseware). Sebuah mata kuliah bisa saja diasuh oleh banyak dosen, menggunakan model plug-and-play: siapapun (yang memenuhi syarat tentunya) bisa mengajar 1-2 topik spesifik dimana dia memang ahlinya, dan penugasannya tidak tetap (tidak tiap semester harus mengajar sesi yang sama).

Kalau dipikir-pikir, mestinya bisa saja kita melakukan itu. Mengapa memaksakan untuk menyediakan semuanya oleh diri sendiri, sementara kita tahu di luar sana banyak resource yang bisa dimanfaatkan. Tentu saja realisasinya tidak sesederhana itu. Banyak hambatan yang harus dihadapi, seperti misalnya:

  1. Paradigma akreditasi Dikti yang sangat berorientasi pada self-sufficiency (yang dinilai adalah kapasitas sistem internal saja, sama sekali tidak memperhitungkan kapasitas network-building),
  2. Penjaminan mutu: bagaimana menjamin agar proses pembelajaran yang melibatkan banyak pihak yang tidak terikat (loosely-affiliated) bisa menghasilkan kompetensi yang ditetapkan ?
  3. Proses eksekusinya: implementasi model Wikinomics memerlukan sistem workflow(value) yang bisa dihasilkan.

    yang handal. Desain sistem mulai dari kurikulum, materi, proses perkuliahan, dan evaluasi harus mengalir secara runtut dan logis, karena proses inilah yang menentukan seberapa tinggi nilai

  4. … dan yang tidak kalah penting, bagaimana menarik resource eksternal untuk berpartisipasi dalam model ini. Saya membayangkan permasalahan terbesar ada di sini. Paradigma konvensional tentang konsep penyelenggaraan layanan pendidikan tinggi akan menjadi penghalang utama, disamping cara berpikir sebagian besar masyarakat (akademik) kita yang masih terikat dengan keuntungan/manfaat langsung (direct benefits): manfaat apa yang bisa diperoleh jika saya berkontribusi dalam gerakan ini ?

Intinya, perlu kemampuan berpikir out-of-the-box, keberanian untuk mencoba hal-hal baru, dan konsisten dalam tindakan. Dunia di luar sana sudah memulainya, kapan giliran kita ? Tidak akan ada perubahan tanpa keberanian untuk mencoba )





Kuliah bersama Prof. Dra. Indah Susilowati, M.Sc. Ph.D

25 02 2008

Pada hari Sabtu tgl 23 Februari 2008 mendapatkan kesempatan emas belajar bersama seorang ibu dosen yang sudah memiliki titel ‘professor’. Ilmu yang disampaikan ibu itu tentang ‘Metode Kuantitatif Bisnis’. Perkuliahan ini dilanjutkan lagi pada hari minggu tgl 24 Februari 2008. Ini merupakan kuliah perdana untuk mata kuliah  ‘Metode Kuantitatif Bisnis’.

Perkuliahan ini disampaikan oleh Prof. Dra. Indah Susilowati, M.Sc. Ph.D. Sekilas mengenai latar pendidikan dari beliau ;

1. S3 24 Juli 1998 PHILOSOPHY IN RESOURCE ECONOMICS Ph.D UNIVERSITI PUTRA MALAYSIA
2. S2 15 Agustus 1992 EKONOMICS M.Sc UNIVERSITI PUTRA MALAYSIA
3. S1 19 September 1986 ILMU EKONOMI DAN PEMBANGUNAN SE UNIVERSITAS DIPONEGORO

Mudah-mudahan ilmu Ibu bisa saya manfaatkan kelak…





Matrikulasi berhasil diselesaikan dengan Baik…

25 02 2008

Selama satu bulan 19 Januari 2008 s/d 10 Februari 2008 perkuliahan matrikulasi program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang berhasil diselesaikan dengan baik.

Applaus dan rasa terima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen yang memberikan perkuliahan matrikulasi :

No

Mata kuliah

Dosen

1

Statistik

Dr. Ir. H. Rahmat Syahni, MS

Drs. Lutfiah Almash, M.Si

Drs. Akhirmen, M.Si

2

Bahasa Inggris

Drs. Rusdi, MA., Ph.D

3

Matematika Ekonomi

Dr. Sri Ulfa Sentosa, MS

Drs. Hasanuddin, MS

4

Teori Ekonomi

Prof. Dr. Syamsul Amar, MS

Drs. Ali Anis, MS

Semoga ilmu dari Bapak/Ibu dapat saya manfaatkan kelak…